JUKUNG: WARISAN BUDAYA SANUR SARAT FILOSOFI NAN-IKONIK


JUKUNG – Adalah perahu kecil bercadik/ berbilah pada kedua sisi yang terbuat dari kayu. Jukung merupakan perahu tradisional yang pada fungsinya digunakan oleh para nelayan dalam menangkap ikan serta sebagai sarana transportasi. Menapaki jejak telusur di Pantai Sanur, Bali, jukung kian didapati sebagai suatu warisan budaya turun-temurun. Sudah sejak lama jukung digunakan oleh para nelayan di Pantai Sanur, melewati tahapan perkembangan zaman dengan bertambahnya preferensi serta teknologi, jukung-jukung di Pantai Sanur masih sanggup bertahan.
“Jukung” kini, bukan sekedar instrumen transportasi dan alat mencari ikan para nelayan Sanur semata, lebih jauh dari itu sebuah filosofi dan ikon Pantai Sanur, Denpasar, Bali.
 
FILOSOFI JUKUNG
Jukung pada mulanya memiliki pola “Gajah Mina”, “Gajah” yang berarti gajah dan “Mina” yang berarti ikan, terpolakan dibagian muka (Gajah) dan pada ekornya (Mina). Jukung berpola gajah mina ini sarat akan beberapa makna filosofis yang dipegang teguh. Gajah merupakan mahluk yang menghuni hutan atau daratan, sedangkan mina berarti ikan yang tentunya memiliki keberadaan di laut. Hal ini dimaknai sebagai bentuk keselamatan dalam suatu konektivitas darat dan laut, bertolaknya nelayan jukung pada perairan laut, memegang prinsip dan harapan untuk kembali dengan selamat pada daratan. Dalam pandangan lain gajah mina merupakan representasi dari bentuk keseimbangan antara dimensi alam (laut dan daratan), serta antara alam dengan manusia.

Komentar

Tambah Komentar
0 Comment

Sign In

;