Nongkrong Pintar di Taman Baca Kesiman

Denpasar Denpasar (0)


  • Denpasar
  • 08.00 - 17.00
  • Denpasar
  • 45 Visitors / Day
  • 60 Minutes to Airport

Perpustakaan kini tak lagi terkesan suram, dingin, dan membosankan. Di Taman Baca Kesiman, perpustakaan disajikan dengan cara kreatif, sehingga meningkatkan minat baca pengunjung.

Taman baca yang beralamat di Jalan Sedap Malam Nomor 234, Denpasar ini menjadi tempat nongkrong pintar berbagai kalangan, khususnya anak-anak muda. Taman baca yang baru berdiri 2014 ini lebih tepat disebut dapur buku karena didesain untuk tempat baca buku sambil makan, minum, dan pertemuan atau sekadar tempat nongkrong komunitas.

Pengelola lebih memilih menyebut tempat ini sebagai dapur, bukan kafe supaya anggapan awal pengunjung tidak menyebut taman baca ini adalah restoran. Taman Baca Kesiman bukan tempat makan atau restoran umum, namun memang menyediakan dapur kecil dengan menu-menu sederhana yang bisa dipilih pengunjung yang tak ingin kelaparan di tengah keseruan membaca.

Pengunjung cukup merogoh kocek lima ribu rupiah untuk segelas kopi bali, teh hangat, atau wedang jahe. Seporsi kentang goreng dengan harga Rp 20 ribu atau salad kebun yang bahan bakunya diambil langsung dari kebun sekitar seharga Rp 15 ribu sudah bisa mengenyangkan perut.

Pengunjung Taman Baca Kesiman bebas membaca lebih dari 2.500 koleksi buku pribadi milik founder, Agung Alit dan Hani Duarsa. Misinya adalah menumbuhkan minat baca dan meningkatkan literasi masyarakat secara umum. Tempat ini buka pukul 10.00 WITA hingga 18.00 WITA.

Manager Program Taman Baca Kesiman, Gede Indra Pramana mengatakan taman baca ini menyediakan ruang baca indoor dua tingkat, ruang aktivitas, kebun, hingga lapangan hijau untuk olah raga. Tak heran jika Taman Baca Kesiman menjadi lokasi berbagai workshop, diskusi mahasiswa dan generasi muda yang fokus pada isu-isu sosial, diskusi buku, hingga tempat peluncuran buku.

“Kami mempunyai beberapa program reguler berbasis komunitas, seperti bincang sore, pemutaran film dan diskusi, hingga acara musik yang kami sebut berdendang,” kata Gede.

Aneka koleksi buku sejarah, sosial, politik, sastra, novel terjemahan, jurnal ilmiah, jurnal populer, dan buku-buku langka yang sulit dijumpai di pasaran ada di sini. Banyak buku berisi pemikiran dari penulis-penulis yang berada di luar arus utama.

Karya-karya penulis terkenal, seperti Pramoedya Ananta Toer, Noam Chomsky, dan Iran Ali Syariati berjejer rapi di rak-rak buku taman baca ini. Ada juga majalah, novel, hingga buku cerita anak menunggu dilahap pembaca.

Pengunjung bisa memilih sendiri tempat membacanya, di dalam ruangan, di kursi-kursi kayu di halaman, atau sambil tiduran di lapangan rumput yang berada persis di samping perpustakaan. Semua buku yang dipinjam sementara hanya boleh dibaca di tempat, tidak boleh dibawa pulang.

Minat baca rakyat Indonesia masih rendah. Data United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menunjukkan persentase minat baca anak Indonesia hanya 0,01 persen. Ini berarti hanya satu orang dari 10 ribu anak di Indonesia yang senang membaca.

Taman Baca Kesiman hanya tempat kecil untuk wisata edukasi, sekaligus membangun peradaban generasi yang sadar baca. Mereka nantinya akan menghadapi arus perubahan zaman yang terus bergerak cepat.

Taman baca ini mengisi kekosongan idealisme dan realitas sempitnya ruang baca di Indonesia, khususnya Bali. Bagi Gede, Taman Baca Kesiman tak ubahnya seperti ‘kawan perubahan’ yang berkembang bersama generasi muda.

Pengelola Taman Baca Kesiman menerima sumbangan atau donasi buku dari masyarakat umum. Meski demikian, pengelola tetap memilah buku-buku sumbangan yang dinilai layak disimpan di taman baca tersebut.  


Reviews

Leave a review
0 Comment

Sign In

;