Rekreasi Sejarah di Lapangan Puputan Badung

(0)


Denpasar merupakan perkotaan yang memiliki ruang publik nan asik. Anda bersama keluarga tinggal pilih tempat rekreasi aman tanpa khawatir kumuh. Ya, salah satunya Lapangan Puputan Badung di Jalan Surapati, persimpangan titik nol Denpasar, Catur Muka.

Pilihan tepat. Karena Anda dan keluarga tak hanya mendapatkan rekreasi asik dan santai, melainkan sekaligus berwisata sejarah. Penasaran, kan?

Bali mengukir sejarah perjuangan rakyat nan heroik dan dramatis. Raykat Bali merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka perang puputan!

Puputan yang dalam bahasa bali berarti pertempuran habis-habisan. Salah satunya terjadi pada 20 September 1906 antara Belanda dengan Kerajaan Badung, yang disebut Perang Puputan Badung.

Perang sebenarnya berlangsung mulai 1902 hingga puput di tahun 1906. Kala itu, Pemerintah Hindia Belanda berpendapat dengan dikuasainya Kerajaan Badung maka setara dengan menguasai Pulau Bali secara keseluruhan.

Meski jumlah prajurit kerajaan dan lawan tak seimbang, Raja Badung yang memerintah saat itu, I Gusti Ngurah Made Agung, bersama rakyat tak gentar melawan kolonial.

Semangat puputan pun berkobar. Gugur membela kebenaran dan kehormatan negara adalah surga bagi mereka. Meski hanya dengan senjata tradisional, rakyat bersama melawan militer Belanda yang dilengkapi senjata modern. Raja Badung ke-7 yang memimpin sendiri perang sejak 1902 hingga 1906. Ia pun gugur bersama rakyat.

Sebagai pengingat sejarah, pemerintah pada 12 November 1997, mendirikan Monumen Puputan Badung. Monumen ini berupa tiga patung, terdiri dari perempuan, laki-laki, dan anak dengan pakaian serba putih memegang keris dan tombak sebagai senjata untuk berperang. Bersamaan itu, terbitlah Surat Keputusan Wali Kota Denpasar Tahun 2009, lapangan pun resmi dinamakan Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung. Warga biasa menyebutnya Lapangan Puputan Badung. Begitulah sejarah singkat lapangan ini...

Sebagai taman kota

Selain sejarah yang heroik, Lapangan Puputan Badung pasatinya berfungsi sebagai taman kota atau ruang terbuka hijau. Anda dan siapa pun bebas memanfaatkannya untuk rekreasi, dan olahraga.

Tak perlu tiket masuk. Cukup membayar parkir kendaran Rp 1.000 untuk kendaraan roda dua, dan Rp 2.000 untuk roda empat. Tetapi harus tertib jika tak mau kendaraan Anda diderek atau roda dikunci petugas karena melanggar.

Sekeliling lapangan itu, ada taman bermain anak, bangku-bangku taman untuk dewasa, area bermain skate board, sepatu roda, jogging track, tempat fitnes, serta lokasi pementasan seni di selatan.

Jika memiliki waktu lebih awal atau datang pagi mulai pukul 09.00 Wita, ke lapangan ini, Anda dapat sekalian mengunjungi Museum Bali, serta Pura Jagadnatha.

Reviews

Leave a review
0 Comment

Sign In

;