PURA MAOSPAHIT, ARSITEKTUR GAYA JAWA

(5)


To be more detailed, most of the temple in Bali that being use to be the place for praying and offerings for most Hindus always have the uniqueness of Bali’s style of architectures. But, Maospahit Temple is different. This temple has the architecture of East Java.

Where is the difference?

If most of Balinese architecture building using red bricks combined with reliefs, javanese architecture has more reliefs than the balinese style one. In Maospahit temple you will find a terracotta statue in the right and left corner, and find garuda and bima relief on the gate. Most of the wall are clean and neat.

Based on the history of Babad wongayah Dalem, this temple was one of Sri Kbo Iwo’s heritage, he was a famous architect who lived in 1278M (Caka 1200)

He was built this temple as a part of his dharma as the architect of Badung. Babad Wongayah Dalem also explained that Candi Raras Maospahit that placed inside the temple is the main offering place and placed between 2 ancient statues.

Next to Candi Raras Maospahit, lies Candi Gedong Majapahit facing South. This Candi/statue was built by King of Badung’s request and was built years after Sri Kbo Iwo died after facing Gajah Mada on ta battle.

To get the original style of architecture from east java, the king sent one of the builder to Majapahit, then nowadays, these two statue become the main offering place inside the temple.

Maospahit temple consists of 5 parts, in balinese they called Panca Mandala. First section consists of Candi Raras Maospahit and Candi Gedong Majapahit. The other 4 parts consists of Candi Kusuma located on the west side, Candi Renggat in the south, Jaba sisi on the west side and Jaba Tengah in the middle part.

Nowadays, this Maospahit Temple is not only a place for praying and offering but it become one of the heritage of Bali. Most of the big ceremony in Balinese calendar such as Purnama Jyesta to worship Ratu Ayu Mas Maospahit and Purnama Kalima to worship Ida Bhatara Lingsir Sakti.


-------------------------------------------------------------------------------------

Pura atau tempat ibadah umat Hindu Bali, identik dengan arsitektur khas Bali, seperti batu bata merah dipadukan dengan ukiran-ukiran. Nah, Pura Maospahit di Kota Denpasar, ini cenderung mengikuti arsitektur gaya Jawa Timur.

Karena lokasinya berada di Bali, Pura Maospahit menjadi istimewa dengan gaya bangunan Jawa-nya. Bangunan pura dominan tersusun dari batu bata merah tanpa memanfaatkan ukiran bergaya Bali.

Pura Maspahit lebih menonjolkan relief di beberapa sisi bangunan seperti Arca Terrakota di kiri dan kanan pura. Relief Garuda dan relief Bima, masing-masing terletak di sisi kiri serta kanan candi bentar. Dinding bangunan pura lainna nampak polos, dengan tumpakan batu bata merah.

Berdasarkan sejarahnya, Babad Wongayah Dalem, pura ini merupakan salah satu peninggalan Sri Kbo Iwo. Sri Kebo Iwo ini seorang ahli bangunan terkenal yang membangun pura tersebut di tahun Saka 1200 atau 1278 Masehi.

Sri Kbo Iwa membangun pura ini sebagai bagian dari dharma atau tugas sebagai ahli bangunan di wilayah Badung. Babad Wongayah Dalem menjelaskan, Candi Raras Maospahit yang menghadap ke barat tersebut, merupakan pelinggih gedong bata merah besar dengan diapit dua patung gerabah kuno. Candi ini sekaligus menjadi pelinggih utama di pura dan letaknya persis di tengah-tengah pura.

Selanjutnya, Anda dapat mengamati sebelah Candi Raras Maospahit, ada juga Candi Gedong Majapahit yang menghadap ke selatan. Candi ini dibangun atas permintaan Raja Kerajaan Bandana atau Badung yang ingin mendirikan gedong pewayangan Majapahit untuk mendampingi Gedong Candi Raras Maospahit. Candi dibangun bertahun-tahun kemudian setelah Sri Kbo Iwo wafat dikalahkan Gajah Mada.

Tidak tanggung-tanggung, salah satu ahli bangunan, I Pasek, diutus ke Majapahit untuk membuat ukuran gedong. Pada perkembangannya, dua candi ini menjadi palinggih utama di Pura Maospahit.

Pura Maospahit sendiri sebenarnya terbagi atas lima halaman atau panca mandala. Halaman pertama telah ditempati Candi Raras Maospahit dan Candi Gedong Majapahit. Empat halaman sisanya yakni Candi Kusuma di sebelah barat halaman pertama sebagai mandala pertama, Candi Renggat di selatan halaman utama sebagai manala kedua, Jaba Sisi di sebelah barat kuil sebagai mandala ketiga, dan Jaba Tengah di tengah sebagai mandala keempat.

Adanya panca mandala ini hanya ada di Pura Maospahit. Pada umumnya, pura di Bali terbagi atas tiga mandala saja, yakni Jaba Sisi, Jaba Tengah, dan Utamaning Mandala.

Hingga saat ini, keberadaan Pura Maospahit tidak hanya tempat ibadah saja, tetapi juga salah satu peninggalan sejarah dan budaya di Bali, masuk sebagai cagar budaya yang dilindungi. Persembahyangan di Pura ini pun rutin digelar dengan pujawali besarnya terjadi dua kali dalam setahun, yakni pada Purnama Jyesta untuk memuliakan Ratu Ayu Mas Maospahit dan Purnama Kalima untuk memuliakan Ida Bhatara Lingsir Sakti.

Anda penasaran, ya...? Ayo, kunjungi dan Pura Maospahit juga masuk agenda city tour Kota Denpasar.


Reviews

Leave a review
1 Comment

Image - 17 May 2019 -

Sankarsana Satria

"Terima kasih untuk infonya, sebagai masukan: 1. Icon location masih belum aktif menginggat pura maospahot di denpasar ada beberapa pura. 2. Tidak ada alamat lokasi pura ini (Jl. Dr. Soetomo) 3. Ada satu gambar disini yang bukan gambar pura maospahit Semoga bermanfaat..."

Sign In

;