Tukad Badung, Rekreasi “Taman Korea”

(0)




Kumbasari art market and Badung traditional market is connected with one big bridge and 2 small bridges that lies accrossing those two locations. These bridges also being uses as the place for small reseller to sell their products.

Under these bridges lies down Tukad Badung (Badung River) that used to be the road for the dutch colonial army when they move from Pemecutan, Denpasar during the Puputan Badung War, in September 1906. Recently, this riverside has been renovated into riverwalk, and design with korean style.

Denpasar Major, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra said that this is the beginning to revitalize the traditional concept. He also wants to provide these places with family recreation facilities such as gondolas along the river.

River walk concept also refer to educate the people to be a part of cleanliness campaign, this campaign should change the riverside that used to be smelly and dirty and full of trashes into a clean and neat spot.

The riverside now is available for walk, they put nice and patterned blocks on the right and left side starting from under the Gajahmada street towards under the bridge in Jalan Hasanuddin. There are more than 10.000 fries has been spread out along the river, to make this river more healthier.

In some spot, this park also equipped with water sprays and fountain. The slogan of this park is Denpasar, my town and my home. Dont worry to find a spot to sit because there are so many chairs has been built there with a bright colors. Reliefs that put in the wall also describe the people of bali who did their daily offerings, dancings, and prayings.

---------------------------------------------

Pasar Kumbasari dan Pasar Badung dihubungkan sebuah jembatan besar dan dua jembatan kecil. Ketiga jembatan ini juga dimanfaatkan sebagai lapak berdagang dari sore hingga pagi hari.

Nah, di bawah jembatan ini mengalir sungai, Tukad Badung yang pada zaman dahulunya merupakan sarana perlintasan pasukan ekspedisi Belanda yang bergerak menuju Pamecutan, Denpasar saat Perang Puputan Badung, September 1906. Tukad Badung kini disulap menjadi river walk, tempat berkumpul masyarakat, khususnya muda-mudi di sore hari atau memiliki sebutan populer “Taman Korea”.

Bagi Wali Kota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra ini merupakan bagian dari program penataan pasar-pasar tradisional. "Ke depannya juga akan ada perahu-perahu wisata untuk melengkapi sarana rekreasi," katanya.

Konsep river walk sengaja dipilih untuk mengajarkan warga sekitar dan pengunjung agar ikut menjaga kebersihan sungai. Bantaran Tukad Badung yang dulu terkenal kotor dan bau kini berubah menjadi tempat wisata yang apik.

Sisi kanan dan kiri tukad dipasangi paving dikombinasikan batu sikat. Penataan dilakukan sepanjang 120 meter, mulai dari aliran tukad di bawah jembatan utama Jalan Gajah Mada ke arah selatan hingga jembatan Jalan Hasanudin.

Lebih dari 10 ribu benih ikan nila ditebar di tukad ini. Harapannya ke depan ikan-ikan tersebut berkembang biak dan bisa menjadi lokasi obyek wisata memancing.

Beberapa titik bantaran tukad ini dipasangi alat khusus yang bisa meluncurkan air mancur. Anak-anak kecil ramai mendekat sekadar membasahi tangan-tangan mungil mereka dengan air mancur tersebut.

Salah satu sisi dinding tertulis Denpasar, Kotaku Rumahku. Kursi-kursi taman inspiratif dari bahan semen yang dicat dengan warna-warna cerah ditempatkan di sepanjang bantaran tukad. Dindingnya dihiasi foto-foto atraksi seni dan budaya Bali, seperti penari Bali, upacara adat, upacara agama, dan sebagainya. Tanaman hijau menjuntai menghiasi dinding tukad, mengurangi tekanan panas cahaya matahari di siang hari.

Pasar Kumbasari dan Pasar Badung kini tak sekadar tempat transaksi ekonomi, melainkan telah menjelma menjadi ruang interaksi sosial antara masyarakat Bali, pendatang, turis lokal, dan mancanegara.


Reviews

Leave a review
0 Comment

Sign In

;